Senin, 10 Januari 2011

7 Tokoh yang Terbunuh oleh Karyanya Sendiri

Bak mata pisau, inovasi punya manfaat & mudarat. 7 Tokoh ini dicelakai inovasinya sendiri.

Teknologi memang bisa memberikan kemudahan. Namun bila tak hati-hati, ia juga bisa membahayakan penggunanya.

Bak 'pagar makan tanaman', inovasi dan teknologi ternyata juga bisa mencelakakan, bahkan merenggut nyawa tuannya. Akhir September lalu, Jimi Heselden, pemilik perusahaan yang memproduksi Segway, sebuah kendaraan semacam scooter yang populer di AS, tewas saat menumpangi kendaraan beroda dua itu.

Discovery mengumpulkan kisah-kisah para penemu atau pemilik inovasi, yang tewas secara tragis oleh produk besutan mereka sendiri. Berikut ini para penemu atau pemilik inovasi yang tewas oleh inovasinya sendiri.

1. James Heselden

Pada 26 September 2010, James Heselden, pemilik perusahaan Inggris Hesco Bastion, perusahaan yang memproduksi Segway, meninggal akibat mengendarai kendaraan roda dua itu.

Menurut saksi mata, pria berusia 62 tahun itu terjatuh dari Segway dan tergelincir ke dalam jurang berkedalaman 30 kaki, hingga akhirnya jasad dan Segway-nya ditemukan di sungai, di dekat kediamannya di West Yorkshire, Inggris.

Segway

Ironisnya, kecelakaan tragis ini cuma selang sehari sebelum pengumuman sebuah riset yang mengungkapkan peningkatan angka kasus cidera akibat kecelakaan Segway, yang mayoritas korbannya adalah para pengendara Segway baru yang belum berpengalaman.

2. Harry Houdini

Harry HoudiniSiapa tak kenal dengan pesulap kondang ini. Harry Houdini, bukanlah pesulap yang menggunakan metoda tradisional. Ia terkenal dengan berbagai trik jenius yang ia ciptakan. Namun, ternyata Houdini meninggal akibat penyakit usus buntu gara-gara memamerkan trik fisik kepada penggemarnya.

Sebelum memulai sebuah pertunjukan, dikabarkan dua orang mahasiswa meminta Houdini untuk memperagakan trik kekuatan fisik, yakni menyerap pukulan-pukulan yang dilayangkan pada tubuh bagian atasnya tanpa terluka.

Karena menuruti permintaan itu, penyakit usus buntu yang telah diidap Houdini makin meradang dan bertambah parah. Pada 31 Oktober 1926, Houdini yang saat itu berusia 52 tahun, meninggal akibat operasi usus buntunya gagal. Houdini dikubur dibaringkan pada kotak tempat ia biasanya mempertontonkan trik ilusi terkenalnya: "buried alive (dikubur hidup-hidup)".

3. Marie Curie

Berkat penemuannya, Marie Curie menjadi wanita pemenang penghargaan Nobel pertama sekaligus menjadi orang pertama yang memenangkan dua penghargaan Nobel sekaligus. Namun, Curie juga merupakan korban dari penemuan dan eksperimennya sendiri: unsur radioaktif.

Marie menemukan dua unsur radioaktif radium dan polonium. Ia giat sekali menggunakan radon, gas yang dihasilkan oleh unsur radium, untuk penyembuhan penyakit bagi para serdadu yang terluka pada perang dunia pertama.

Mary Curie

Belakangan, baru diketahui bahwa radon memiliki sisi yang mematikan. Setelah sekian lama berinteraksi dengan unsur mematikan itu, perlahan kesehatannya terus menurun. Akhirnya Curie meninggak pada 4 Juli 1934, di usia ke-66 tahun.

Ia meninggal akibat anemia aplastic, sebuah kondisi di mana sumsum tulang tidak lagi memproduksi sel darah yang baru. Hari ini dunia medis mencatatnya sebagai akibat dari paparan radiasi.

4. Thomas Andrews

Bangkai kapal Titanic di dasar laut Atlantik UtaraThomas Andrews adalah salah seorang arsitek kapal Titanic, asal Irlandia yang saat itu berusia 39 tahun. Sebagai seorang pembuat kapal yang bertugas mengawal kapal besutannya, Andrews turut dalam perjalanan perdana Titanic.

Pada 15 April 1912, akhirnya, sampai akhir hayatnya, Thomas pun 'mengiringi' ajal kapal besar itu bersama para penumpang lainnya.

5. Horace Lawson Hunley

Hunley adalah seorang legislator, pengacara, sekaligus insinyur marinirbagi tentara konfederasi AS. Dan penemuan terkenalnya adalah: kapal selam, yang digunakan pada perang saudara Amerika Serikat.

Horace Lawson Hunley, penemu Kapal selam pertama

Namun, saat itu penemuan Hunley memang belum memiliki standar pengamanan yang cukup bagi manusia. Lima dari sembilan anak buah kapal selam saat itu, meninggal pada misi penyelaman perdana.

Pada 15 Oktober 1863, Hunley sendiri pada akhirnya turut ambil bagian pada ujicoba kedua, yakni dengan misi penyerangan terhadap pemblokiran kelompok Union di Charleston Harbour. Pada ujicoba kedua ini, semua kru kapal selam termasuk Hunley yang saat itu berusia 40 tahun, meninggal.

Tentara-tentara konfederasi berhasil mengambil bangkai kapal selam dan memperbaiki kapal selam ini. Pada ujicoba ketiga, akhirnya kapal selam berhasil menenggelamkan sebuah kapal milik Union.

Sayangnya, keberhasilan itu tak dapat dirayakan oleh para kru, mengingat pada akhirnya kapal selam itu tiba-tiba tenggelam bersama seluruh krunya. Setelah hilang selama 132 tahun, akhirnya jenazah Hunley ditemukan di dasar Samudra Atlantik, di dekat Charleston Harbour.

6. Alexander Bogdanov

Tak banyak yang mengenal nama ini. Namun, temuannya sangat penting bagi dunia kedokteran: transfusi darah. Bogdanov, yang juga seorang ekonom, profesor, dokter, dan pendiri Bolshevisme, mencoba untuk menyediakan transfusi darah secara terus menerus.

Pada 1928, Bogdanov berhasil mengujikan alat transfusi ini pada dirinya hingga 11 kantung. Namun, yang ke 12 ternyata fatal, Bogdanov kemudian meninggal. Para peneliti terbelah mengenai penyebab meninggalnya ilmuwan 55 tahun itu. Ada yang mengatakan ia terkena penyakit infeksi darah, inkompatibitas jenis darah, atau bahkan bunuh diri.

7. William Bullock

William Bullock adalah pria kelahiran New York, tahun 1813, yang menemukan alat press cetak putar. Alat ini bekerja mengepres dengan memutar rol kertas secara kontinyu.

Mesin pres cetak buatan William Bullock

Kisah legenda yang berkembang, kemudian menyebutkan Bullock secara tak sengaja tubuhnya tertarik oleh putaran mesin. Kakinya luka oleh mesin ini. Belakangan pria yang saat itu berusia 54 tahun itu, mengalami infeksi dan tak lama kemudian ia meninggal dengan kakinya yang telah membusuk.

Selasa, 14 Desember 2010

PROPER 2010

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sejak tahun 2002 telah meluncurkan Pogram Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam pengelolaan lingkungan (PROPER) sebagai pengembangan dari PROPER PROKASIH. Sejak dikembangkan, PROPER telah diadopsi menjadi instrumen penaatan di berbagai negara seperti China, India, Filipina, dan Ghana, serta menjadi bahan pengkajian di berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

Mengingat keterbatasan sumber daya yang ada, pada saat ini baru sebagian kecil perusahaan dapat dimasukkan dalam penilaian, yaitu 690 perusahaan. Paling banyak diikuti oleh perusahaan manufaktur sebanyak 258 perusahaan, kemudian 215 perusahaan agroindustri, 201 perusahaan pertambangan, energi dan migas serta perusahaan kawasan atau jasa sebanyak 16 perusahaan. Jumlah ini naik 10% dibandingkan tahun lalu yaitu 627 perusahaan. Namun jumlah ini masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total 8.000 ‐ 10.000 perusahaan yang berpotensi untuk dijadikan peserta PROPER.

Dalam penilaian PROPER tahun ini, terdapat perubahan peringkat warna yang disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup (PPLH). Untuk tahun 2009-2010, kategori peringkat warna terdiri dari Emas, Hijau, Biru, Merah, dan Hitam. Peringkat Biru Minus dan Merah Minus yang sebelumnya ada, kini ditiadakan.

Untuk penilaian PROPER, dilakukan oleh oleh Dewan Pertimbangan PROPER yang diketuai Guru Besar ITB Prof. Dr. Ir. Surna Djajadiningrat. Penilaian oleh Dewan Pertimbangan ini, untuk menjaga akuntabilitas dalam penentuan peringkat PROPER perusahaan.

Menteri Lingkungan Hidup Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta saat memberikan keterangan Pers terkait hasil penilaian PROPER 2009-2010 didampingi Ketua Dewan Pertimbangan PROPER Prof. Dr. Ir. Surna Djajadiningrat di kantor KLH, Jumat, 26 November 2010.

Hasil Penilaian

Pada penilaian tahun ini, dua perusahaan mendapatkan Emas, 54 perusahaan mendapatkan peringkat Hijau, yang mendapatkan Biru 435 perusahaan, Merah 152 perusahaan dan Hitam 47 perusahaan.

Peringkat Emas yang merupakan peringkat tertinggi, untuk PROPER tahun ini diraih oleh 2 (dua) perusahaan , yaitu

  1. PT Holcim Indonesia Tbk ‐ Cilacap Plant dari sektor manufaktur, dan
  2. Chevron Geothermal Indonesia, Ltd. Unit Panas Bumi Darajat dari sektor pertambangan, energi dan migas.

Pertama kalinya peringkat Emas untuk PROPER 2009‐2010 kali ini dapat diraih oleh 2 perusahaan di mana pada dua tahun sebelumnya hanya satu perusahaan. Peringkat emas dapat diraih oleh 2 perusahaan tersebut karena mencapai ketaatan penuh terhadap peraturan perundang‐undangan sesuai dengan kriteria penilaian dan memperoleh nilai tertinggi pada aspek lebih dari taat (beyond compliance) yang meliputi 3 aspek pokok penilaian yaitu Sistem Manajemen Lingkungan, Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Limbah serta Pengembangan Masyarakat.

Sedangkan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. ‐ Pabrik Citeureup yang tahun sebelumnya memperoleh peringkat Emas, pada tahun ini memperoleh peringkat Hijau.

PT Semen Padang sendiri tahun ini kembali memperoleh peringkat Biru dan pada tahun 2012 memiliki target untuk meraih peringkat HIJAU.

PT Semen Padang menuju PROPER Hijau tahun 2012

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.18 Tahun 2010 Tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, kriteria yang harus dipenuhi untuk peringkat HIJAU adalah : usaha dan atau kegiatan yang telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan dalam peraturan (beyond compliance) melalui pelaksanaan sistem pengelolaan lingkungan, pemanfaatan sumberdaya secara efisien melalui upaya 4R (Reduce, Reuse, Recycle dan Recovery), dan melakukan upaya tanggung jawab sosial (CSR/Comdev) dengan baik.


Analisa Tingkat Penaatan

Dari tingkat penataan, perusahaan pertambangan, energi dan migas menempati uturan teratas sebesar 83 persen, kemudian diikuti perusahaan manufaktur 72 persen, sektor kawasan dan jasa 69 persen dan terendah sektor agroindustri 59 persen.

Dari status permodalan, tingkat penaatan yang paling tinggi dilakukan oleh perusahaan BUMN sebesar 76 persen. Penaatan yang dilakukan perusahaan BUMN, mengalami peningkatan, jika dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 68 persen.

Secara keseluruhan, tingkat penaatan perusahaan meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 71,52 persen atau 432 perusahaan, menjadi 441 perusahaan atau 73,01 persen.

Namun, ada hal yang menarik yakni, sebanyak 230 perusahaan tidak mengalami perubahan peringkat, sementara 73 perusahaan atau 12 persen turun peringkatnya dan 301 atau 50 persen mengalami peningkatan peringkat.

Pada saat ini, penilaian kinerja penaatan difokuskan kepada penilaian penaatan perusahaan dalam aspek pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, dan pengelolaan limbah B3 serta berbagai kewajiban lainnya yang terkait dengan AMDAL. Untuk sektor pertambangan, belum dilakukan penilaian kinerja perusahaan terkait dengan upaya pengendalian kerusakan lingkungan, khususnya kerusakan lahan. Sedangan penilaian untuk aspek beyond compliance dilakukan terkait dengan penilaian terhadap upaya‐upaya yang telah dilakukan oleh perusahaan dalam penerapan Sistem Manajemen Lingkungan (SML), Konservasi dan Pemanfaatan Sumber daya, serta kegiatan Corporate Social Responsibilty (CSR) termasuk kegiatan Community Development.

Disarikan dari : siaran_pers_proper_2010 oleh KLH tertanggal 26 November 2010.

Silahkan download (format pdf) di link :

http://www.menlh.go.id/pers/siaran_pers_proper_2010.pdf

Senin, 06 Desember 2010

Hijrahnya Sandrina Malakiano dengan memakai jilbab

Semoga kisah Sandrina Malakiano Fatah (mantan penyiar Metro TV dan istri komentator politik dari UI, Eep Syaefullah Fatah) berikut ini bisa kita ambil sebagai hikmah untuk berhijrah pada momentum tahun baru Islam. Walau kisah ini telah dituliskannya di facebook beberapa tahun lalu, tetapi tidak mengurangi pelajaran yang bisa diambil.

Sandrina Malakiano Fatah dan suaminya

Selamat tahun baru Islam, 1 Muharam 1432 H

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.


----- Dari Facebook-nya Sandrina Malakiano Fatah

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi dibelakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa ---sebagaimana Islam mengajarkan--- di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi. Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi Metro TV. Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri.

Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar, ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya. Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang terbaik dan bahwa dunia tak selebar daun Metro TV, saya bergeming dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan mendapat berkah dari-Nya.

HIKMAH BERJILBAB

Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu. Bagaimana mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para profesor di acara Ensiklopedi Al Quran selama Ramadhan tahun lalu, misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia, mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, dan melindungi minoritas. Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih kenyamanan hidup.

Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian seminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku dirinya liberal dalam berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle --- seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua --- di sebuah lembaga nirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam.

Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, "Kamu tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar"

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung meredup dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme --- mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya--- ternyata bisa bersemayam.

Sabtu, 13 November 2010

[is-lam] Wahai Jiwa yang Tenang

Kompas, Sosok, Minggu, 04 September 2005 
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/04/Sosok/2020225.htm

ASAL USUL

Wahai Jiwa yang Tenang
MOHAMAD SOBARY

"Dan duka maha tuan bertahta" (Chairil Anwar)

Di makamnya kita menunggu. Ribuan wajah menunduk. Orang tampak
berdesak-desakan di bawah terik matahari sejak menjelang pukul sebelas
hingga tengah hari.

Apa bedanya dengan dulu ketika di Taman Ismail Marzuki atau di hotel-hotel
kita berkerumun menanti dia datang dan kemudian mendengar
ceramah-ceramahnya?

Bedanya, kali ini ada tembakan salvo, upacara kemiliteran, dan tembang Gugur
Bunga. Kali ini kita mengantarkannya pulang. Dan sesudah ini tak akan pernah
ada lagi panitia menjemputnya dan membawanya ke podium untuk didengar
pemikirannya.

Dan ketika di atas pusaranya orang-orang tercinta dan yang setulus hati
mencintainya-juga anggota-anggota keluarga, para sahabat, teman-teman,
kenalan, dan para pengagum-dengan kusuk menabur bunga, saya pun mengambil
sejumput, kemudian saya taburkan di atas taburan yang sudah merata.

Ini bukan taburan pertama, tetapi bukan yang terakhir. Di belakang saya
antrean masih panjang.

Sejenak saya termangu. Bait terakhir puisi Chairil Anwar: "Dan duka maha
tuan bertahta" yang ditulis pada saat kematian neneknya menggambarkan dengan
baik suasana sejak kemarin sorenya di Kampus Paramadina.

Dalam hati saya sendiri, rasa bersalah besar, pengakuan dan penyesalan,
berkecamuk. Rasanya seperti lorong kecil tanpa ujung. Utang sosial macam ini
dengan apa dibayar? Saya terhukum.

Hari Minggu-dua hari sebelumnya-ketika kesehatannya sangat menggembirakan,
saya dan istri saya bermaksud menengok ke rumah sakit, tetapi gagal oleh
urusan teknis lainnya dan saya menghibur diri bahwa hari lain masih ada.
Kita tak pernah tahu rahasia Tuhan.

Saya mendoakannya dengan hati merendah dan dengan kesadaran yang mulai utuh
tetapi getir bahwa kita betul-betul kehilangan. Dan bahwa apa yang hilang
itu tak mungkin kembali.

Alunan tembang sahdu "mati satu tumbuh seribu" saya kira bukan janji, bukan
hiburan. Mati satu tumbuh satu pun rasanya sudah merupakan kemurahan alam
yang melimpah. Tetapi, siapa gerangan yang satu itu?

Berkali-kali, dalam gerah ketika kita menanti rangkaian upacara itu, orang
membisikkan rasa kehilangannya. Berkali-kali pula orang bertanya kepada saya
siapa penggantinya, dan saya tak bisa menjawab.

Cak Nur pergi bukan atas kemauannya sendiri. Saya berani bertaruh, gemuruh
dalam jiwa dan semangatnya untuk mengabdi negaranya belum reda. Ia masih
ingin terus memperbaiki keadaan yang tetap morat-marit. Tak sukar kita
menyelami dan menyimpulkan bahwa ia sering kecewa.

Ia bukan hanya orang yang bisa disebut committed citizen, tetapi ia pemimpin
yang sangat peduli. Ia tak sabar membayangkan hasil kerjanya.

Dialah yang gigih menciptakan ruang kebudayaan untuk memfasilitasi agar
kekuatan rohaniah bernama "umat", yang sangat jauh tertinggal bisa masuk ke
dalam dan menjadi bagian dari "modernitas", kiblat dunia itu. Ia
"memodernisasikan" umat.

Dengan syukur ia melihat meningkatnya pendidikan "umat". Ia sadar
Timur-Barat itu milik Tuhan. Dan karena itu umat hendaknya jangan dihantui
ketakutan dan dibebani kebencian serta dendam tiap bicara Timur-Barat.

Sebagai kiblat geografis keduanya ada. Sebagai kutub pemikiran keduanya tak
perlu dianggap dikotomi. "Timur-Barat" atau "Barat-Timur" itu sebuah
civilization continuum. Dulu, peradaban mengalir dari Timur ke Barat dan
sekarang kebalikannya, tetapi apa salahnya?

Cak Nur bangga melihat proses "santrinisasi birokrasi" dan "birokratisasi
santri" itu. Tetapi, ketika santrinisasi itu bergerak ke "tengah", ia kecewa
karena "santrinisasi birokrasi" berubah dari gejala sosiologis biasa menjadi
gejala politik yang tak ramah.

"Umat" lalu menjadi kekuatan politik riil. Banyak pihak berkata: kini
giliran kita. Tetapi, "kita" itu hanya sedikit orangnya. Suasana balas
dendam atau kehendak dominan dilampiaskan. Dengan masygul, Cak Nur pun
mundur.

Sebagai pemikir, jiwa Cak Nur bergejolak. Ia liberal, lebih dari siapa pun.
Tetapi, watak liberalnya tak diumumkan dan ia tak ingin dipahlawankan karena
alasan itu. Ia mungkin malah tak tahu bahwa ia liberal.

Secara pribadi, Cak Nur jiwa yang tenang. Sikapnya lembut. Tutur kata dan
sepak terjangnya santun seperti murid teladan.

"Murid? Bukankah ia guru bangsa?"

Seorang guru bangsa pun hakikatnya juga murid. Sekarang terlalu banyak orang
mengaku pintar dan semua berambisi menjadi pemimpin tanpa bersedia menjadi
murid.

Dan murid yang satu ini sudah menghadap. Di sana, semoga ia disambut ramah:
"Wahai jiwa yang tenang, masuklah ke dalam surga-Ku."

http://www.mail-archive.com/is-lam@milis.isnet.org/msg01074.html

Hajji dan Ukhuwah Islamiyah (Buat kita yang tidak wukuf, yuk puasa sunnah Arafah 9 Dzulhijjah)

Salah satu hikmah yang mendasar dari ibadah haji adalah persaudaraan atau ukhuwah.

Ka'bah, kesatuan kiblat umat Islam se-dunia.

Ketika 3 juta umat Islam berkumpul di Padang Arafah setipa tahunnya, jamaah yang datang dari segala penjuru dunia itu terdiri atas berbagai bangsa, warna kulit, dan status yang berbeda-beda. Namun, mereka melebur di satu tempat dengan kain yang rata-rata berwarna sama-ihram putih-untuk merenungi diri dengan doa-doa dalam kebersamaan.

Lautan 3 juta umat manusia yang berkumpul di bawah teriknya mentari di padang Arafah.
Wukuf ibarat 'wisuda' bagi para calon jama'ah haji, yang merupakan puncak ibadah haji tersebut.

Berinteraksi satu dengan lainnya sembari bertukar informasi, saling berkomunikasi, dan bersilaturahim. Pada saat-saat tertentu, saling tolong-menolong menyelesaikan masalah untuk kepentingan bersama: melaksanakan manasik bersama, shalat berjamaah, makan dan minum bersama, dengan tujuan yang sama pula. Labbaik Allahumma Labbaik, memenuhi undangan Allah sebagai tamu-Nya yang istimewa (Dhuyufurrahman).

Dalam suka dan duka perjalanan haji, beragam rintangan dan onak duri mungkin dialami setiap jamaah, yang dalam kebersamaan dan saling tolong-menolong sesamanya itu direspons dengan kesabaran. Suatu pemandangan alam mahsyar yang divisualisasikan dalam drama kolosal wukuf (berhenti sejenak untuk merefleksikan diri bersama jamaah haji yang lain) terasa pada puncak ritual haji (hajju Arafah) ini.

Kebersamaan dalam haji inilah momentum yang tepat untuk merajut persaudaraan universal (ukhuwah Islamiah). Ukhuwah berasal dari kosakata akha - ya'khu - ukhuwwah. Kata ini dengan berbagai derivasinya banyak sekali terdapat di dalam Alquran, baik dalam arti saudara kandung maupun dalam arti saudara lain. Yang berkaitan dengan ukhuwah ini terdapat sekitar 80 ayat dalam berbagai surah. Pada Alquran surah Al-Hujurat [49] ayat 10, misalnya, dinyatakan bahwa antara sesama mukmin adalah saudara.

Makna ukhuwah kemudian dijelaskan oleh Rasul SAW dalam beberapa sabdanya, di antaranya dengan menggunakan analogi yang mudah dipahami, "Al-Mukmin li al-Mukmin ka al-Bunyan yasyuddu ba'dhuhu ba'dlan" (Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya itu bagaikan beton bangunan yang saling menguatkan satu dengan lainnya).

Rasulullah SAW telah meletakkan batu-bata ukhuwah ini dengan susah payah sejak pascahijrah ke Madinah. Para sahabat dipersaudarakan, antara Muhajirun dan Anshar. Di tengah Muhajirun dan Anshar sendiri, kemudian di antara individual para sahabat. Untuk mempererat persaudaraan yang hakiki, Nabi mengawini putri sahabat dan beliau pun mengawinkan putri-putrinya dengan para sahabat dekat, baik dari Bani Hasyim (suku Nabi sendiri) maupun dari Bani Umayah. Begitulah persaudaran ini terpelihara sampai pada masa berikutnya.

Spirit ukhuwah yang hakiki yang telah diteladankan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya pada 622 Hijriah ini merupakan fenomena luhur yang diabadikan oleh Alquran, misalnya, dalam surah Al-Hasyr [59] ayat 9. Dengan haji ini mestinya kita konkretkan ukhuwah yang sejati. Boleh jadi dalam kebersamaan itu ada perbedaan, tetapi kita sebagai umat yang satu harus satu dalam keyakinan akidah.

Sumber : koran republika

Baca juga

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah dan Amalan Yang Disyari’atkan

http://ahmadfarisi.wordpress.com/2010/11/09/keutamaan-10-hari-pertama-bulan-dzul-hijjah/

Selamat Idul Adha 1431 H

Sebelumnya kita puasa sunah Arafah dulu ya!

Sabtu, 30 Oktober 2010

Dies Natalis Emas UNSRI

Tanggal 29 Oktober diperingati sebagai hari jadi Universitas Sriwijaya (UNSRI) yang ditandai dgn keluarnya Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 1960 tanggal 29 Oktober 1960 (Lambaran Negara Tahun 1960 No. 135).



Sejarah Singkat Universitas Sriwijaya

Ide untuk memiliki sebuah perguruan tinggi di Sumatera Selatan telah ada sejak awal tahun 1950-an, yang dicetuskan dalam suatu kesempatan resepsi perayaan hari Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1952. Diprakarsai oleh beberapa orang pemuka masyarakat, menjelma menjadi kesepakatan untuk membentuk "Panitia Fakultet Sumatera Selatan". Menjelang akhir Agustus 1952, dengan berbagai pertimbangan, ditetapkan bahwa yang pertama akan didirikan adalah fakultas ekonomi. Untuk itu dibentuklah "Panitia Fakultet Ekonomi Sumatera Selatan" yang dikelola oleh suatu yayasan yang didirikan pada tanggal 1 April 1953 dengan nama "Yayasan Perguruan Tinggi Syakhyakirti".

Pembukaan Fakultet Ekonomi secara resmi di bawah Yayasan Perguruan Tinggi Syakhyakirti ini dilakukan pada tanggal 31 Oktober 1953 dalam suatu acara yang dihadiri oleh Mr. Hadi, Sekretaris Jenderal Kementrian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PPK), Drg. M. Isa (Gubernur Sumatera Selatan), Bambang Utoyo (Panglima TT II Sriwijaya) dan Ali Gathmyr (Ketua DPRD Sumatera Selatan).

Upaya melengkapi perguruan tinggi di Sumsel dilanjutkan oleh Yayasan Perguruan Tinggi Syakhyakirti dengan membentuk Panitia Penyelenggaraan Fakultas Hukum. Pada tanggal 1 November 1957, bertepatan dengan perayaan Dies Natalis IV Fakultas Ekonomi, diresmikanlah fakultas tersebut dengan nama 'Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat".

Pengembangan kemudian dilanjutkan dengan bantuan Penguasa Militer Teritorial II Sriwijaya yang memberikan bantuan keuangan unuk mendirikan gedung permanen Yayasan Perguruan Tinggi Syakhyakirti di Bukit Besar (kini Kampus Unsri Bukit). Upacara peletakan batu pertamanya dilakukan pada tanggal 31 Oktober 1957

Upaya selanjutnya adalah penegerian perguruan tinggi yang sudah ada tersebut. Dengan perjuangan gigih tokoh masyarakat Sumsel ketika itu, antara lain Kolonel Harun Sohar (Panglima selaku Ketua Paperda TT II/ Sriwijaya) dan A. Bastari (Gubernur), hambatan yang amsih ada untuk berdirinya universitas negeri di Palembang dapat diatasi. Delegasi yang dikirim ke Jakarta bulan Desember 1959 menemui Menteri PPK (Mr. Moh yamin) berhasil memperoleh jaminan kesediaan pemerintah untuk mengambil alih Perguruan tinggi Syakhyakirti menjadi suatu universitas negeri. Dengan Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 1960 tanggal 29 Oktober 1960 (Lambaran Negara Tahun 1960 No. 135) akhirnya berdirilah Universitas Sriwijaya yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 3 November 1960 dalam upacara penandatanganan piagam pendirian oleh Presiden Sukarno dengan disaksikan oleh Menteri PPK (Mr. Priyono) dan beberapa Duta Besar negara sahabat. Sebagai Presiden Universitas yang pertama diangkat Drg. M. Isa yang diangkat dengan Keputusan Presiden No. 696/M tahun 1960 tanggal 29 Okober 1960

Untuk memenuhi tuntutan perkembangan, Unsri kemudian merencanakan penambahan kampus, di luar Bukit Besar yang sudah ada, dengan membebaskan tanah seluas 712 hektar, di Indealaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (Sekarang Ogan Ilir-OI), pada tahun 1982. Pembangunan kampus baru ini dimulai pada tahun 1983 dengan bantuan dana Asian Development Bank (ADB), yang secara fisik baru dimulai pada tahun 1989 dan berakhir pada tanggal 31 Desember 1993. Gubernur Sumatera Selatan H Ramli Hasan Basri memberikan kuliah perdana menandai awal kegiatan akademik di kampus baru Inderalaya ini pada tanggal 1 September 1993. Pemanfaatan sepenuhnya fasilitas di Kampus Inderalaya dilaksanakan dengan Keputusan Rektor pada bulan Januari 1995 dimana ditetapkan bahwa terhitung sejak tanggal 1 Februari 1995 semua kegiatan administrasi dan sebagian besar kegiatan akademik diselenggarakan di Kampus Inderalaya. Peresmian Kampus Unsri Indralaya yang sesungguhnya baru dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 1997 oleh Presiden Soeharto.

FILM dalam MIHRAB Cinta

Setelah sukses dengan film “KETIKA CINTA BERTASBIH” (KCB) 1 & 2, SinemArt kembali mengangkat karya novelis terkemuka Indonesia, Habiburrahman El Shirazy, ke layar lebar.

Kali ini SinemArt akan memfilmkan novel Kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman El Shirazy) yang berjudul “DALAM MIHRAB CINTA” dengan judul yang sama.

novel DALAM MIHRAB CINTA

Film ini disutradai langsung oleh Kang Abik , dan disupervisi oleh sutradara senior Chaerul Umam.

Film DMC dibintangi oleh aktor dan aktris terkemuka Indonesia, seperti Dude Harlino, Asmirandah, Meyda Sefira (pemeran Husna dalam KCB), Boy Hamzah, Tsania Marwah dan Dwi Utari. Mereka berhasil terpilih dalam open casting yang dibuka dari tahun lalu sampai April 2010.

Menurut rencana, syuting film DMC akan dilaksanakan dalam waktu satu bulan. Film ini akan mengambil lokasi, terutama di Semarang, Kediri, Pekalongan, Jogjakarta, dan Jabodetabek.

Habiburrahman El Shirazy

Sang Penulis novel sekaligus sutradara film DMC, Habiburrahman El Shirazy menjelaskan, film DMC berkisah tentang perjuangan seorang remaja yang sempat khilaf dan kekuatan cinta dari orang-orang dekatnya mampu menariknya kembali ke jalan lurus.

“Pesan yang ingin disampaikan melalui film ini adalah siapa pun kalau didorong untuk berbuat tidak baik, bisa benar-benar jadi orang yang tidak baik. Tapi sebaliknya, kalau dimotivasi terus-menerus untuk menjadi baik, dan diberi ruang untuk berbuat baik, dia benar-benar bisa menjadi orang baik. Contohnya adalah kisah Samsul Hadi dalam film DALAM MIHRAB CINTA ini,” papar sastrawan lulusan Al Azhar University Cairo, Mesir itu.

Sastrawan yang berhasil meraih berbagai penghargaan nasional dan internasional itu sesungguhnya bukan sama sekali baru di bidang penyutradaraan. Ia pernah menyutradarai teater sewaktu masih di Madrasah Aliyah di Solo masih di Madrasah Aliyah di Solo dan saat menuntut ilmu Al Azhar University Cairo Mesir.

Khusus penyutradaraan film, Kang Abik banyak belajar kepada Chaerul Umam, seorang sutradara senior yang kerap menggarap film-film religi. Selama dua tahun beliau mendampingi Chaerul Umam sebagai asisten sutradara saat menggarap film KCB, di Mesir maupun Indonesia. Pengalaman itu tentu menjadi bekal berharga bagi Kang Abik untuk menyutradarai DMC merupakan novel ketiga karya Habiburrahman yang difilmkan oleh SinemArt. Sebelumnya SinemArt sukses mengangkat karya Habiburrahman, KETIKA CINTA BERTASBIH (KCB) 1 dan 2 ke layar lebar. Film yang dibintangi oleh Kholidi Asadil Alam (Azzam), Oki Setiana Dewi, Andi Asyril Rahman, Meyda Safira, dan Alice Norin, berhasil membukukan sukses dengan meraih 5,9 juta penonton. Kesuksesan film KCB diikuti dengan kesuksesan sinetron KCB serial Ramadhan yang diputar di RCTI dan berhasil menjadi tayangan Ramadhan terfavorit pilihan pemirsa.

mega best seller

Sebelumnya, novel Habiburrahman yang menjadi mega best seller, AYAT-AYAT CINTA (AAC) juga sukses difilmkan. “Saya berharap karya-karya saya, baik dalam bentuk novel, film maupun sinetron dapat memberikan pencerahan dan menumbuhkan semangat berprestasi bagi masyarakat,” tutur sastrawan yang dipercaya untuk menjadi Ketua Liga Sastra Islam Dunia yang bermarkas di Riyadh, untuk Indonesia.

http://filmdalammihrabcinta.com/