Sabtu, 13 November 2010

[is-lam] Wahai Jiwa yang Tenang

Kompas, Sosok, Minggu, 04 September 2005 
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/04/Sosok/2020225.htm

ASAL USUL

Wahai Jiwa yang Tenang
MOHAMAD SOBARY

"Dan duka maha tuan bertahta" (Chairil Anwar)

Di makamnya kita menunggu. Ribuan wajah menunduk. Orang tampak
berdesak-desakan di bawah terik matahari sejak menjelang pukul sebelas
hingga tengah hari.

Apa bedanya dengan dulu ketika di Taman Ismail Marzuki atau di hotel-hotel
kita berkerumun menanti dia datang dan kemudian mendengar
ceramah-ceramahnya?

Bedanya, kali ini ada tembakan salvo, upacara kemiliteran, dan tembang Gugur
Bunga. Kali ini kita mengantarkannya pulang. Dan sesudah ini tak akan pernah
ada lagi panitia menjemputnya dan membawanya ke podium untuk didengar
pemikirannya.

Dan ketika di atas pusaranya orang-orang tercinta dan yang setulus hati
mencintainya-juga anggota-anggota keluarga, para sahabat, teman-teman,
kenalan, dan para pengagum-dengan kusuk menabur bunga, saya pun mengambil
sejumput, kemudian saya taburkan di atas taburan yang sudah merata.

Ini bukan taburan pertama, tetapi bukan yang terakhir. Di belakang saya
antrean masih panjang.

Sejenak saya termangu. Bait terakhir puisi Chairil Anwar: "Dan duka maha
tuan bertahta" yang ditulis pada saat kematian neneknya menggambarkan dengan
baik suasana sejak kemarin sorenya di Kampus Paramadina.

Dalam hati saya sendiri, rasa bersalah besar, pengakuan dan penyesalan,
berkecamuk. Rasanya seperti lorong kecil tanpa ujung. Utang sosial macam ini
dengan apa dibayar? Saya terhukum.

Hari Minggu-dua hari sebelumnya-ketika kesehatannya sangat menggembirakan,
saya dan istri saya bermaksud menengok ke rumah sakit, tetapi gagal oleh
urusan teknis lainnya dan saya menghibur diri bahwa hari lain masih ada.
Kita tak pernah tahu rahasia Tuhan.

Saya mendoakannya dengan hati merendah dan dengan kesadaran yang mulai utuh
tetapi getir bahwa kita betul-betul kehilangan. Dan bahwa apa yang hilang
itu tak mungkin kembali.

Alunan tembang sahdu "mati satu tumbuh seribu" saya kira bukan janji, bukan
hiburan. Mati satu tumbuh satu pun rasanya sudah merupakan kemurahan alam
yang melimpah. Tetapi, siapa gerangan yang satu itu?

Berkali-kali, dalam gerah ketika kita menanti rangkaian upacara itu, orang
membisikkan rasa kehilangannya. Berkali-kali pula orang bertanya kepada saya
siapa penggantinya, dan saya tak bisa menjawab.

Cak Nur pergi bukan atas kemauannya sendiri. Saya berani bertaruh, gemuruh
dalam jiwa dan semangatnya untuk mengabdi negaranya belum reda. Ia masih
ingin terus memperbaiki keadaan yang tetap morat-marit. Tak sukar kita
menyelami dan menyimpulkan bahwa ia sering kecewa.

Ia bukan hanya orang yang bisa disebut committed citizen, tetapi ia pemimpin
yang sangat peduli. Ia tak sabar membayangkan hasil kerjanya.

Dialah yang gigih menciptakan ruang kebudayaan untuk memfasilitasi agar
kekuatan rohaniah bernama "umat", yang sangat jauh tertinggal bisa masuk ke
dalam dan menjadi bagian dari "modernitas", kiblat dunia itu. Ia
"memodernisasikan" umat.

Dengan syukur ia melihat meningkatnya pendidikan "umat". Ia sadar
Timur-Barat itu milik Tuhan. Dan karena itu umat hendaknya jangan dihantui
ketakutan dan dibebani kebencian serta dendam tiap bicara Timur-Barat.

Sebagai kiblat geografis keduanya ada. Sebagai kutub pemikiran keduanya tak
perlu dianggap dikotomi. "Timur-Barat" atau "Barat-Timur" itu sebuah
civilization continuum. Dulu, peradaban mengalir dari Timur ke Barat dan
sekarang kebalikannya, tetapi apa salahnya?

Cak Nur bangga melihat proses "santrinisasi birokrasi" dan "birokratisasi
santri" itu. Tetapi, ketika santrinisasi itu bergerak ke "tengah", ia kecewa
karena "santrinisasi birokrasi" berubah dari gejala sosiologis biasa menjadi
gejala politik yang tak ramah.

"Umat" lalu menjadi kekuatan politik riil. Banyak pihak berkata: kini
giliran kita. Tetapi, "kita" itu hanya sedikit orangnya. Suasana balas
dendam atau kehendak dominan dilampiaskan. Dengan masygul, Cak Nur pun
mundur.

Sebagai pemikir, jiwa Cak Nur bergejolak. Ia liberal, lebih dari siapa pun.
Tetapi, watak liberalnya tak diumumkan dan ia tak ingin dipahlawankan karena
alasan itu. Ia mungkin malah tak tahu bahwa ia liberal.

Secara pribadi, Cak Nur jiwa yang tenang. Sikapnya lembut. Tutur kata dan
sepak terjangnya santun seperti murid teladan.

"Murid? Bukankah ia guru bangsa?"

Seorang guru bangsa pun hakikatnya juga murid. Sekarang terlalu banyak orang
mengaku pintar dan semua berambisi menjadi pemimpin tanpa bersedia menjadi
murid.

Dan murid yang satu ini sudah menghadap. Di sana, semoga ia disambut ramah:
"Wahai jiwa yang tenang, masuklah ke dalam surga-Ku."

http://www.mail-archive.com/is-lam@milis.isnet.org/msg01074.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar