Dari malam sampai pagi saya mencoba menghubungi kakak di Padang, tetapi tidak berhasil. Ternyata menurut laporan di TV semua saluran telekomunikasi di Padang putus..tus..tus. Listrik mati pula di sana karna jaringan PLN hancur. Keadaan benar-benar gelap gulita dan entah sampai kapan listrik bisa menyala lagi. Jadilah saya dari malam sampai siang hanya bisa menyaksikan tayangan langsung di TV tentang kedahsyatan gempa itu. Ratusan korban tewas telah ditemukan dan ribuan lainnya masih tertimbun di balik reruntuhan gedung, entah masih hidup entah sudah mati. Itu baru di Padang, sementara di Pariaman lebih dahsyat lagi dan belum tersentuh bantuan. Ribuan rumah di sana hancur, dan yang lebih mengenaskan satu kampung di kaki bukit tertimbun longsor bukit barisan dan menguburkan ratusan orang di kampung itu yang sedang menghadiri pesta pernikahan warga. Mirip seperti longsor akibat gempa di Cianjur baru-baru ini.
Di TV saya melihat kota kelahiran saya luluh lantak, hampir semua gedung rubuh dan banyak rumah yang hancur. Kebakaran di mana-mana dan semua orang sibuk menyelamatkan diri. Perasaan saya menjadi tidak karu-karuan selama beberapa hari. Bagaimana tidak, kota Padang tempat saya dilahirkan dan dibesarkan selama 18 tahun sehingga saya tahu betul semua sudut kota ini, luluh lantak dihoyak gempa besar berskala 7,6 SR pada hari Rabu sore kamaren. Hanya dalam waktu 2 menit saja kemegahan dan keindahan kota ini sirna sekejap mata. Kota Padang seperti jatuah tapai. Jatuah tapai adalah perumpamaan yang diberikan kepada kejatuhan yang menimpa orang atau barang. Tapai adalah tape singkong yang lembek, bila ia jatuh dari ketinggian maka tiba di lantai tape itu sudah tidak berbentuk lagi. Begitulah kondisi kota dan daerah lainnya di Sumbar yang porak poranda setelah diayun-ayun oleh gempa.
(Sumber foto: Detik.com)
(Sumber foto: www.boston.com)
(Sumber foto: www.boston.com)
Penderitaan warga makin bertambah karena sarana telekomunikasi terputus. Saya yakin jutaan perantau Minang di seperti saya baik di Indonesia maupun di luar negeri mencoba menelpon sanak sudaranya di Sumbar, tetapi tidak bisa. Semua orang menjadi putus komunikasi dengan Sumatera Barat. Seperti yang saya lihat di TV, perantau hanya bisa menangis, menangis, dan menangis tanpa tahu harus berbuat apa dan tidak tahu harus bertanya kemana.
Tadi malam barulah saya berhasil menelpon ke Padang. Alhamdulillah keluarga selamat meskipun rumah retak-retak dan pagar rubuh. Kata kakak di sana listrik masih padam, air tidak mengalir, makanan susah didapat. Pertokoan di jalan Sawahan hancur, banyak orang terperangkap di dalam reruntuhan. Meskipun keluarga selamat, namun tetap tidak mengurangi kepiluan saya yang mendalam tentang penderitaan warga Sumbar. Mereka saudara-saudara saya juga, derita mereka saya rasakan di rantau. Dua hari ini saya tidak bersemangat melakukan apa-apa, kepikikran terus, banyak pekerjaan terbengkalai. Badan memang di Bandung, tapi pikiran menerawang jauh ke kampung halaman.
Saya yakin ratusan ribu perantau Minang ingin pulang kampung melihat kondisi keluarga mereka di sana. Saya pun ingin pulang. Tapi apa daya, sarana transportasi sangat terbatas. Sangat sulit mendapat tiket pesawat dalam kondisi seperti ini. Kalaupun ada harganya sangat mahal. Naik mobil juga tidak mungkin karena sarana jalan terputus ke Padang akibat longsor. Jadilah di sini saya hanya bisa termangu-mangu menyaksikan tayangan langsung dari reporter TV di Padang, sambil sesekali menyeka air mata. Pilu.
*********
Bunyi saluang di Metro TV terdengar bagai ratapan di tengah malam. Suaranya menghiba-hiba mengiringi tayangan tentang nagari yang telah hancur oleh gempa, lalu anak-anak dan kaum ibu yang menangis ketakutan. Pilu.
Allah SWT menurunkan cobaan yang berat ini sebagai ujian untuk menguji seberapa kuat iman seseorang, apakah ia makin menjauh atau malah makin dekat kepada-Nya. Tentu ada hikmah dari bencana alam ini agar manusia lebih mendekatkan diri kepada-Nya, karena hanya kepada Allah SWT tempat untuk kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar