Selasa, 14 Desember 2010

PROPER 2010

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sejak tahun 2002 telah meluncurkan Pogram Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam pengelolaan lingkungan (PROPER) sebagai pengembangan dari PROPER PROKASIH. Sejak dikembangkan, PROPER telah diadopsi menjadi instrumen penaatan di berbagai negara seperti China, India, Filipina, dan Ghana, serta menjadi bahan pengkajian di berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

Mengingat keterbatasan sumber daya yang ada, pada saat ini baru sebagian kecil perusahaan dapat dimasukkan dalam penilaian, yaitu 690 perusahaan. Paling banyak diikuti oleh perusahaan manufaktur sebanyak 258 perusahaan, kemudian 215 perusahaan agroindustri, 201 perusahaan pertambangan, energi dan migas serta perusahaan kawasan atau jasa sebanyak 16 perusahaan. Jumlah ini naik 10% dibandingkan tahun lalu yaitu 627 perusahaan. Namun jumlah ini masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total 8.000 ‐ 10.000 perusahaan yang berpotensi untuk dijadikan peserta PROPER.

Dalam penilaian PROPER tahun ini, terdapat perubahan peringkat warna yang disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup (PPLH). Untuk tahun 2009-2010, kategori peringkat warna terdiri dari Emas, Hijau, Biru, Merah, dan Hitam. Peringkat Biru Minus dan Merah Minus yang sebelumnya ada, kini ditiadakan.

Untuk penilaian PROPER, dilakukan oleh oleh Dewan Pertimbangan PROPER yang diketuai Guru Besar ITB Prof. Dr. Ir. Surna Djajadiningrat. Penilaian oleh Dewan Pertimbangan ini, untuk menjaga akuntabilitas dalam penentuan peringkat PROPER perusahaan.

Menteri Lingkungan Hidup Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta saat memberikan keterangan Pers terkait hasil penilaian PROPER 2009-2010 didampingi Ketua Dewan Pertimbangan PROPER Prof. Dr. Ir. Surna Djajadiningrat di kantor KLH, Jumat, 26 November 2010.

Hasil Penilaian

Pada penilaian tahun ini, dua perusahaan mendapatkan Emas, 54 perusahaan mendapatkan peringkat Hijau, yang mendapatkan Biru 435 perusahaan, Merah 152 perusahaan dan Hitam 47 perusahaan.

Peringkat Emas yang merupakan peringkat tertinggi, untuk PROPER tahun ini diraih oleh 2 (dua) perusahaan , yaitu

  1. PT Holcim Indonesia Tbk ‐ Cilacap Plant dari sektor manufaktur, dan
  2. Chevron Geothermal Indonesia, Ltd. Unit Panas Bumi Darajat dari sektor pertambangan, energi dan migas.

Pertama kalinya peringkat Emas untuk PROPER 2009‐2010 kali ini dapat diraih oleh 2 perusahaan di mana pada dua tahun sebelumnya hanya satu perusahaan. Peringkat emas dapat diraih oleh 2 perusahaan tersebut karena mencapai ketaatan penuh terhadap peraturan perundang‐undangan sesuai dengan kriteria penilaian dan memperoleh nilai tertinggi pada aspek lebih dari taat (beyond compliance) yang meliputi 3 aspek pokok penilaian yaitu Sistem Manajemen Lingkungan, Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Limbah serta Pengembangan Masyarakat.

Sedangkan PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. ‐ Pabrik Citeureup yang tahun sebelumnya memperoleh peringkat Emas, pada tahun ini memperoleh peringkat Hijau.

PT Semen Padang sendiri tahun ini kembali memperoleh peringkat Biru dan pada tahun 2012 memiliki target untuk meraih peringkat HIJAU.

PT Semen Padang menuju PROPER Hijau tahun 2012

Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.18 Tahun 2010 Tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, kriteria yang harus dipenuhi untuk peringkat HIJAU adalah : usaha dan atau kegiatan yang telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan dalam peraturan (beyond compliance) melalui pelaksanaan sistem pengelolaan lingkungan, pemanfaatan sumberdaya secara efisien melalui upaya 4R (Reduce, Reuse, Recycle dan Recovery), dan melakukan upaya tanggung jawab sosial (CSR/Comdev) dengan baik.


Analisa Tingkat Penaatan

Dari tingkat penataan, perusahaan pertambangan, energi dan migas menempati uturan teratas sebesar 83 persen, kemudian diikuti perusahaan manufaktur 72 persen, sektor kawasan dan jasa 69 persen dan terendah sektor agroindustri 59 persen.

Dari status permodalan, tingkat penaatan yang paling tinggi dilakukan oleh perusahaan BUMN sebesar 76 persen. Penaatan yang dilakukan perusahaan BUMN, mengalami peningkatan, jika dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 68 persen.

Secara keseluruhan, tingkat penaatan perusahaan meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 71,52 persen atau 432 perusahaan, menjadi 441 perusahaan atau 73,01 persen.

Namun, ada hal yang menarik yakni, sebanyak 230 perusahaan tidak mengalami perubahan peringkat, sementara 73 perusahaan atau 12 persen turun peringkatnya dan 301 atau 50 persen mengalami peningkatan peringkat.

Pada saat ini, penilaian kinerja penaatan difokuskan kepada penilaian penaatan perusahaan dalam aspek pengendalian pencemaran air, pengendalian pencemaran udara, dan pengelolaan limbah B3 serta berbagai kewajiban lainnya yang terkait dengan AMDAL. Untuk sektor pertambangan, belum dilakukan penilaian kinerja perusahaan terkait dengan upaya pengendalian kerusakan lingkungan, khususnya kerusakan lahan. Sedangan penilaian untuk aspek beyond compliance dilakukan terkait dengan penilaian terhadap upaya‐upaya yang telah dilakukan oleh perusahaan dalam penerapan Sistem Manajemen Lingkungan (SML), Konservasi dan Pemanfaatan Sumber daya, serta kegiatan Corporate Social Responsibilty (CSR) termasuk kegiatan Community Development.

Disarikan dari : siaran_pers_proper_2010 oleh KLH tertanggal 26 November 2010.

Silahkan download (format pdf) di link :

http://www.menlh.go.id/pers/siaran_pers_proper_2010.pdf

Senin, 06 Desember 2010

Hijrahnya Sandrina Malakiano dengan memakai jilbab

Semoga kisah Sandrina Malakiano Fatah (mantan penyiar Metro TV dan istri komentator politik dari UI, Eep Syaefullah Fatah) berikut ini bisa kita ambil sebagai hikmah untuk berhijrah pada momentum tahun baru Islam. Walau kisah ini telah dituliskannya di facebook beberapa tahun lalu, tetapi tidak mengurangi pelajaran yang bisa diambil.

Sandrina Malakiano Fatah dan suaminya

Selamat tahun baru Islam, 1 Muharam 1432 H

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.


----- Dari Facebook-nya Sandrina Malakiano Fatah

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi dibelakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa ---sebagaimana Islam mengajarkan--- di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan.

Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV.

Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup.

Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi. Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi Metro TV. Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri.

Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar, ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya. Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang terbaik dan bahwa dunia tak selebar daun Metro TV, saya bergeming dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan mendapat berkah dari-Nya.

HIKMAH BERJILBAB

Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu. Bagaimana mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.

Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para profesor di acara Ensiklopedi Al Quran selama Ramadhan tahun lalu, misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia, mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, dan melindungi minoritas. Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih kenyamanan hidup.

Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian seminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku dirinya liberal dalam berislam.

Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle --- seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua --- di sebuah lembaga nirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam.

Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, "Kamu tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar"

Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah kemajemukan.

Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung meredup dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme --- mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya--- ternyata bisa bersemayam.